[REVIEW BUKU] CRITICAL ELEVEN



Judul             : Critical Eleven
Penulis          : Ika Natasha
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
ISBN             : 978-602-03-1892-9
Tebal            : 344 halaman
Tahun terbit : Cetakan Keduabelas, April 2016
Genre           : MetroPop

“Nya, orang yang membuat kita paling terluka
biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” (halaman 252)
Pernahkah kalian merasa ragu dengan keputusan yang sudah diambil? Mulai mempertanyakan keputusan tersebut benar atau salah? Merasa tidak tahu harus mengambil langkah apa selanjutnya?
Perasaan itu yang dialami Aldebaran Risjad (Ale) dan Tanya Laetitia Baskoro Risjad (Anya) setelah lima tahun pernikahan mereka. Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Jika digambarkan, perjumpaan mereka sama dengan istilah critical eleven.

Critical eleven adalah istilah dalam dunia penerbangan, yaitu sebelas menit paling kritis di dalam pesawat - tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing – karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit. Hal itu mirip dengan perjumpaan manusia. Tiga menit pertama krisis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah – delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Suka Pada Pandangan Pertama
Sepertinya saya agak telat membaca novel ini, maklum Critical Eleven pertama kali diterbitkan tahun 2015, dan saya baru membacanya tahun 2016 ini. Itupun atas rekomendasi seorang teman. Meskipun begitu, buat saya yang baru pertama kali membaca tulisan Ika Natasha, saya dibuatnya jatuh cinta!!!

Saya suka dengan gaya penulisan Ika Natasha, yang terkesan menertawakan diri sendiri tapi sangat natural. Terutama saat karakter Ale dan Anya sedang “bertarung” dengan pikiran dirinya sendiri. Seperti saat Anya merasa payah dalam menjalin hubungan dengan seseorang.
Ingin punya tujuan pulang, tapi kok nggak berani
menjadikan seseorang itu rumah kamu toh, nduk? (Halaman 8)
Selama membaca novel ini, saya bisa tertawa, mengernyitkan dahi, bahkan menganggukkan kepala. Tertawa karena hal-hal konyol yang dibuat Ale untuk “menggoda” Anya sehingga Anya terlambat datang ke tempat kerja (Jika kamu tahu apa yang saya maksud dengan menggoda, berarti kamu sudah dewasa hehe). Mengernyitkan dahi karena penolakan Anya yang begitu keras kepada Ale. Dan menganggukkan kepala saat apa yang ditulis sesuai dengan apa yang saya rasakan.
Kita kan sering begitu, ya? Melihat orang atau pasangan yang hidupnya kelihatan seru dan bahagia banget, apakah itu orang yang kita kenal langsung atau sekedar yang kita ikuti hidupnya lewat Twitter atau Instagram, dan kita dengan cepatnya berkomentar, “Pengin deh kayak kalian” atau “Iri banget deh sama kalian”, tanpa kita benar-benar tahu sebenarnya kehidupan orang itu seperti apa. (Halaman 157)
Cerita dalam novel ini ditulis bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang menceritakan bagaimana kisah hidup mereka. Bagaimana awal pertemuan, sampai cara mereka memperjuangkan cinta mereka kembali. Teknik penulisan seperti ini, membuat saya mengerti perbedaan pola pikir antara pria dan wanita. Tapi, pada bab-bab tertentu saya merasa gaya penulisan kedua karakter hampir sama.

Satu lagi yang saya suka dari novel ini adalah cara ending ceritanya. Di awal pertama, saya takut apakah novel ini akan berakhir seperti tipikal novel percintaan kebanyakan. Tapi, ternyata sang penulis memberikan banyak kejutan buat saya. Akhirnya, saya suka bagaimana Ika Natasha memberikan penegasan tentang bagaimana kita harus bertanggung jawab terhadap semua keputusan yang sudah diambil.
Apapun jalan yang kau pilih, pasti akan ada keraguan dalam pikiranmu akan jalan yang tidak kau pilih. Karena itulah, tidak ada yang namanya pilihan tanpa penyesalan. Tidak ada jawaban yang benar dalam hidup. Yang harus kau lakukan adalah mempercayai jalan yang telah kau pilih sebagai jawaban yang benar dan membuat pilihan yang kau buat tersebut menjadi benar.

Komentar