Hari menjelang malam saat kami tiba di Melaka. Tubuh kami yang terlalu capek setelah menempuh hampir dua setengah jam perjalanan dari Kuala Lumpur dengan bus, terpaksa harus bergegas mengikuti ritme waktu di Melaka.
Ya, Melaka adalah lokasi kedua yang saya kunjungi saat berada di Malaysia. Melaka jadi favorit saya karena bangunan tua nya. Bagi mereka yang senang dengan bangunan tua dan sejarahnya, rasanya rugi kalau tidak mengunjungi kota sejarah yang masuk dalam daftar warisan dunia ini. Melaka yang dijuluki The World Heritage City memang penuh dengan bangunan-bangunan bersejarah yang dipertahankan bentuk aslinya dan menjadi daya tarik bagi wisatawan, termasuk saya.
Daya tarik Melaka ada pada lokasi bangunan bersejarah yang letaknya saling berdekatan di tengah kota. Jadi, cukup dengan berjalan kaki, saya sudah bisa menikmati sejumlah obyek wisata. Tapi karena saya sampai saat malam hari, ada beberapa obyek wisata yang akhirnya tidak bisa dinikmati karena sudah tutup seperti museum sejarah yang ada di kompleks Stadthyus – Red Square. Sepertinya ini kode kalau saya harus datang ke Melaka lagi. Amin.
| Jalan berbukit menuju ke reruntuhan Gereja St. Paul |
| Bersantai, Berpose Ditemani Musisi Jalanan |
Oh ya, berkeliling Melaka juga bisa dilakukan dengan naik bot menyusuri sungai Melaka. Hm, kalau saya lebih memilih dengan berjalan kaki saja. Melaka sangat nyaman bagi pejalan kaki, apalagi di pinggiran sungai Melaka disediakan bangku-bangku untuk sekedar beristirahat atau menikmati keindahan Melaka saat malam hari.
Suasana Melaka saat itu sangat ramai sekali. Maklum saat itu akhir pekan. Selain itu, setiap akhir pekan, Melaka selalu menggelar pasar malam yang berada di kawasan Jonker Street. Ini adalah wilayah Chinatown untuk kuliner dan juga menikmati bangunan-bangunan bergaya Cina yang masih dijaga keasliannya. Pasar malam ini juga menjadi daya tarik wisatawan. Meskipun di Indonesia, saya sering datang ke pasar malam, tapi rasanya akan berbeda saat berada di negeri orang.
Di sepanjang jalan, saya menemukan penjual souvenir, barang antik, pakaian, hingga aneka makanan. Uniknya, jalur pasar malam itu dibuat melewati lokasi monumen Datuk Wira Dr. Gan Boon Leong yang dibuat atas kontribusinya memperkenalkan kawasan Jonker melalui prestasinya di bidang olahraga dan mendapat julukan The Father of Bodybuilders in Malaysia.
Komentar
Posting Komentar