[REVIEW BUKU] SOPHISMATA OLEH ALANDA KARIZA

Sumber : Google
Judul : Sopshismata
Penulis : Alanda Kariza
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-5674-7
Tebal : 272 halaman
Tahun Terbit : 2017
Cetakan : Pertama
Genre : Fiksi Romantis, Chicklit, Politik
Rating : 4/5


What happens when you dislike politicians so much, yet you fall in love with one?” Pernyataan yang ada di sampul depan novel romantis bertema politik ini tentu bukan tanpa alasan ditulis disana. Realitanya, banyak orang yang terjebak dengan kondisi harus bertahan di tengah-tengah lingkungan atau seseorang yang tidak dia sukai karena menurutnya itu satu-satunya jalan untuk meraih hal yang diimpikan. Dan, itu yang dialami tokoh utama dalam novel ini yang seringkali mengalami pergolakan batin, antara bertahan atau pergi.

Sigi sudah tiga tahun bekerja sebagai staf anggota DPR, tapi tidak juga bisa menyukai politik. Ia bertahan hanya karena ingin belajar dari atasannya – mantan aktivis 1998 bernama Johar – yang sejak lama ia idolakan, dan berharap bisa dipromosikan menjadi tenaga ahli. Sigi bekerja sebagai staf administrasi yang kesehariaannya disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya administratif, mulai dari jadwal Johar, mengarsip dokumen, sampai memantau media. Ia ingin sekali mendapatkan apresiasi akan kompetensi, ide, dan terutama identitasnya dari Johar.

Di kantor, Sigi bekerja sama dengan dua tenaga ahli Johar, Catra – ilmuwan data yang mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan program Johar, lulusan S2 luar negeri yang sering memandang rendah Sigi hanya karena tugasnya sebagai administrasi. Lalu Gilbert – pekerjaannya mengurus hal-hal yang berhubungan dengan konstituen dan daerah pilih Johar, Yogyakarta. Sigi merasa Gilbert lebih menyenangkan diajak ngobrol dibandingkan Catra. Meski, ternyata Sigi mengetahui Gilbert tidak jauh berbeda dengan Catra, hanya Gilbert bereaksi dengan cara yang lebih halus.

Kisah Sigi dimulai ketika ia harus mendampingi Johar melakukan wawancara soal pengalaman mendirikan partai dengan seseorang yang ternyata adalah senior di SMA nya, Timur. Selesai wawancara, Sigi menghabiskan waktu mengobrol dengan Timur, salah satunya tentang keinginan Timur untuk mendirikan partai politik. Diam-diam Timur senang bisa bertemu Sigi yang saat SMA, selalu berhasil mencuri perhatiannya. Sedangkan Sigi meskipun awalnya ingin cepat-cepat pulang ke rumah setelah bekerja, ia tersenyum karena senang bertemu sosok yang familier. Cara pria itu membicarakan ambisinya menarik perhatian Sigi. Perlahan Sigi menyadari bahwa tidak semua politisi seburuk yang ia kira. Sejak hari itu, mereka cukup sering berkomunikasi.

Suatu hari, kantor Johar kedatangan seorang tamu wanita muda – mahasiswi bernama Megara, yang ingin bertemu dengan Johar. Tapi entah kenapa Johar selalu menolak. Setelah meyakinkan Megara untuk menghubunginya jika ingin bertemu dengan Johar, Sigi melanjutkan pekerjaannya. Hingga Sigi menerima email dari Megara dengan lampiran foto USG bayi, Megara mengaku dihamili Johar. Sejak insiden itu, Sigi bingung bagaimana harus bersikap. Sigi sudah menyampaikan ke atasannya tapi Johar mengatakan dengan tenang kalau Megara berbohong. Fakta bahwa dirinya juga perempuan menggugah rasa khawatir di dadanya. Bagaimana kalau Megara benar-benar dihamili Johar?

Cukup menarik membaca novel ini, karena rasanya saya bisa memahami apa yang dirasakan tokoh utamanya. Sebagai seorang perempuan bekerja, akan tidak menyenangkan apabila kemampuan dan identitas kita bekerja dibedakan hanya karena label perempuan. Pemilihan setting pada dunia politik, sebenarnya juga menjadi salah satu alasan saya membaca novel ini. Di awal cerita, saya merasa alur cerita sangat menarik, namun di pertengahan saya merasa stuck. Entah kenapa, saya merasa alur yang disuguhkan terkesan berputar-putar. Bagaimana sang tokoh utama menyelesaikan pergolakan batin yang dia hadapi terasa berjalan lambat. Tokoh pendukung, Timur yang dikisahkan sebagai “penolong” bagi Sigi terasa tidak terlalu kuat karakternya, saya merasa dia hanya sekedar lewat. Mungkin karena di sini Sigi diceritakan sebagai wanita kuat yang memiliki pemikiran sendiri. Sigi lebih senang berdikusi lebih dahulu daripada langsung menerima setiap masukan dari Timur.

Membaca novel ini kadang membuat saya agak gregetan melihat sikap Sigi yang tetap bertahan meski sebenarnya sudah tidak betah. Apa yang membuatnya bertahan? Dan itu terjawab saat Sigi berdiskusi dengan Timur.

“Kalau boleh jujur, aku nggak terlalu percaya passion. Buatku, bikin kue itu semacam rekreasi. Aku takut kalau itu aku jadikan pekerjaan, nanti malah jadi nggak fun. Lagipula, perkara do what you love itu terlalu utopis. Semua kerjaan, semenyenangkan apa pun, pasti ada satu titik akan melelahkan. Mending cari kerjaan yang aku sedikit suka, tapi sekaligus menantang. Biar aku juga bisa berkembang, ya kan?”
-halaman 201-

Tapi, di balik itu semua, saya menyadari bahwa kadang apa yang kita inginkan tidak semua bisa terpenuhi. Apa yang menurut orang hal itu penting tidak akan sama dengan orang lain. Satu yang pasti, proses setiap orang akan berbeda. Menghargai pendapat orang lain dan keputusannya, akan lebih baik daripada mengkritisi seseorang tanpa memberikan solusi. Eh sepertinya itu adalah daya tarik Timur di novel ini. Penulis dalam novel ini juga mengajak kita kalau setiap orang punya peranannya sendiri. Ada yang memilih membuat garis jelas dalam hidupnya, atau politikus yang identik dengan dunia abu-abu. Dua-duanya tidak apa-apa. Tidak harus dibandingkan satu dengan yang lain. Kita semua punya peran dan boleh memilih.

Komentar