THE NAKED TRAVELER 8 BY TRINITY

Jelang akhir tahun 2018 kemarin, saya bikin janji sama diri sendiri, mau rajin baca buku lagi. Targetnya 20 buku di tahun 2019!! Tapi masuk bulan Februari tahun ini, saya baru menyelesaikan satu buku. Ouch! Dan The Naked Traveler 8 karya Trinity jadi buku pertama yang saya baca tahun ini.

Selama ini saya tahu Trinity dari tulisan-tulisan di blognya saja. Walaupun saya tahu ia sudah banyak menerbitkan buku, tapi baru kali ini saya membeli bukunya (ikut Pre Order dapat tanda tangan). Alasannya simpel, ini adalah buku terakhir dari seri “The Naked Traveler” yang selalu saya tunda untuk beli.

Di The Naked Traveler 8, Trinity berbagi pengalaman hal-hal seru dan nagih saat berkunjung ke 88 negara di dunia. The Naked Traveler 8 ini dibagi jadi 10 bagian: Traveling Dulu dan Sekarang, Tidak Biasa, Tips for Newbie, Trinity Approved!, Asia Lain, Negara “Stan”, #TNTeffect, Yang Nyebelin, Opini, dan Bukan Traveling.

Yang bikin saya kaget, ternyata sebagian besar cerita dalam buku ini sudah pernah saya baca di blog Trinity. Hm, sempat mikir sih, rugi donk saya beli bukunya hehehe, tapi untung saja masih banyak cerita lain yang belum pernah saya tahu dan menarik sekali.

Yang paling “ngena” buat saya, adalah kisah Trinity bareng dua temannya saat road trip di 3 negara “Stan” (Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan-ketiganya masuk dalam Asia Tengah). Ketiga negara ini mungkin jarang dipilih orang saat traveling, begitu juga saya. Apalagi dengan konsep road trip, perjalanan dengan menggunakan kendaraan. Wow bisa dibayangkan tantangannya?? Mulai dari kendala bahasa, kondisi jalan, makanan, penginapan, belum lagi kejutan-kejutan kecil selama perjalanan. Seperti yang diceritakan Trinity di buku, dia harus beradaptasi dengan toilet umum dalam bentuk bilik yang terpisah jauh dari bangunan utama. Syukur-syukur ada tisu, biasanya hanya berupa kloset dengan bolongan yang berisi tumpukan kotoran tanpa air!(Maaf….)

Tapi, pemandangan alam di Asia Tengah kata Trinity sangat indah. Hamparan pengunungan yang hijau, danau yang jernih dan berkilau terkena sinar matahari, sepertinya setimpal dengan perjuangannya. Sayangnya, buku ini tidak menyertakan gambar setiap lokasi yang dikunjungi. Hanya beberapa saja, selebihnya saya harus browsing dulu mencoba mencocokkan dengan cerita yang ditulis.

Kalau di Indonesia, saya tertarik sekali dengan kisah Trinity saat ke Kepulauan Anambas di Provinsi Kepulauan Riau. Katanya, pantai di sini masih bersih dan jernih. Tapi tentu saja, jalur transportasi ke sana masih sulit. Saya sebenarnya bukan anak pantai, tidak kuat panas dan lengketnya. Tapi dari cerita Trinity, saya pengen pakai banget datang ke Kepulauan Anambas (langsung intip dompet).

Secara garis besar, buku The Naked Traveler 8 ini sangat menarik dan ringan untuk dibaca. Gak perlu terburu-buru membacanya. Dibaca berulang kali pun akan tetap menarik. Gaya bercerita Trinity juga enak untuk diikuti, rasanya seperti langsung diceritakan sama teman dekat dan bikin ingin berangkat juga. Pas banget sama semangat Trinity buat menularkan virus traveling hehehe.

Terima kasih Trinity dan The Naked Traveler 8. Buku yang pas untuk memulai traveling tahun ini.



Komentar

  1. kapan kapan cucu mbah heru travelling bersama yuk mbaa ahahha

    BalasHapus
  2. Akhirnya aku bisa meninggalkan jejak, yeyee....

    BalasHapus

Posting Komentar