Ketika Anak Tidak Bisa Lepas Dari Gadget


"Ma, mau nonton baby John", ucap Arka sambil menunjuk dua pipinya dengan tangan.

Kira-kira seperti itu gaya anak saya yang berusia 15 bulan kalau bisa ngomong, untuk meminta saya memutarkan animasi kesayangannya di youtube lewat gadget (handpone). Kalau sudah begitu, anak saya bakal duduk anteng sambil nonton. Meski saya senang karena dia anteng, tapi sebenarnya ada ketakutan sih. Seperti nanti akan bikin kecanduan gak ya? Mempengaruhi perkembangannya gak, gitu.

Nah, untungnya beberapa waktu lalu, kegalauan saya teratasi lewat bincang santai yang saya ikuti tentang Popcorn Brain: Bahaya Anak Tidak Lepas Dari Gadget. Sekitar 2 jam, saya belajar tentang generasi anak sekarang yang harus banyak berinteraksi dengan gadget, positif dan negatif dari penggunaan gadget, sampai bagaimana orang tua harus menyikapinya. Untuk pengisi materi, ada dr. Aimee Nugroho, SpKJ (psikiater di RS National Surabaya), dan Yovita Lesmana (Mompreneur).

Mau tau lebih dalam? Baca tulisan ini sampai akhir ya teman-teman.


Apa itu Popcorn Brain?

Memang nggak selamanya memakai gadget punya dampak negatif. Tapi, bila penggunannya terlalu sering, maka anak tetap saja bisa kena dampaknya. Salah satunya ada istilah popcorn brain. Pernah dengar nggak? Istilah ini dipakai untuk menggambarkan otak yang seakan meletup-letup karena terbiasa dengan layar gadget yang memberikan stimulus yang kuat.

Harus kita akui, kalau gadget atau perangkat elektronik lainnya, sangat menyenangkan, terutama bagi anak-anak karena menyajikan warna yang mencolok dan grafis menarik. Biasanya anak yang sudah kena popcorn brain akan selalu mencari hal-hal yang semakin lama semakin brutal, impulsif, cepat dan menarik di mata mereka. Jadi, jangan heran kalau anak akan memberi respon datar saat diajak bermain ke tempat terbuka atau alam.

Untuk kasus anak saya saat ini, belum pada fase terkena popcorn brain (jangan sampai deh!). Tapi, dia akan terus meminta diputarkan video baru jika yang lama sudah selesai, bahkan bisa sampai sedikit tantrum kalau tidak dituruti.

Suasana Live Instagram

Untuk itu, dr.Aimee Nugroho menjelaskan kalau menurut WHO ada usia tertentu anak dikenalkan pada gadget :

  1. 0 - 2 tahun, di usia ini anak tidak disarankan memakai gadget.Boleh video call, tapi tidak game atau youtube. Kenapa? Karena di usia ini, anak belajar untuk berbicara, menirukan orang tua.
  2. Usia 2 tahun ke atas, di usia ini diperbolehkan hanya untuk video edukasi, sekitar 20 menit.
  3. Di usia 6 - 12 tahun, masih hanya untuk video edukasi dengan durasi 30 menit setiap kali menggunakan.
  4. Untuk anak SMP, baru boleh menggunakan untuk video game tapi tidak terkoneksi internet.
  5. Sedangkan usia 17 tahun ke atas, video game terkoneksi internet.

Tapi, untuk saat ini, di masa pandemi sekarang ini, yang segala sesuatunya menggunakan gadget dan terkoneksi internet, tentu bukan hal yang mudah ya teman-teman. Bagi saya dengan balita, mungkin belum terlalu kerasa ya. Lain dengan orang tua yang bekerja dengan anak yang bersekolah daring di rumah. Tidak memakai gadget, nggak mungkin hehehe. Karena itu, dr. Aimee Nugroho bilang, boleh menggunakan, tapi dibatasi, diawasi, tidak berlebihan, tidak kekurangan. Bijak!.

Cara yang saya praktekan selama ini untuk mengurangi kegiatan anak saya dengan gadget, biasanya saya kasih aktivitas yang banyak. Misal, kalau saya harus berada di dapur, saya ajak dan beri, entah itu piring plastik atau gelas, dan biarkan dia bermain. Resikonya, pekerjaan saya semakin banyak sih, tapi anak saya tetap sibuk sambil saya mengerjakan tugas rumah. Selain itu, saya mengajak anak saya untuk bermain di halaman rumah saat sore hari. Pokoknya sebisa mungkin saya beri aktivitas yang menggerakkan badan. 

Ternyata cara saya ini juga sama dengan pengalaman Yovita Lesmana. Menurutnya, anaknya selalu diberi kegiatan, kalau tidak bakal rewel. Ini karena selama hampir berusia 3 tahun, Yovita belum mengenalkan gadget pada anaknya. Bahkan tidak ada aplikasi game di handphonenya. Salah satu prinsip yang bisa dicontoh dari Yovita, yaitu tidak ada istilah ngalah dengan anak, tapi diberi aktivitas. Suasana rumah juga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Masa pandemi, tidak banyak pergi, menurutnya rumah yang lega, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak bereksplorasi jadi salah satu faktor pendukung.

Sebagai penutup bincang santai saat itu, Yovita menekankan bahwa penting ada kesehatan mental pada diri orang tua. Orang tua yang tidak bahagia, tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk anak, sehingga seringkali memakai cara pintas dalam mengasuh anak, dalam hal ini memberikan gadget berlebihan. Ajak anak beraktivitas di luar untuk menyalurkan energinya. Sedangkan dr. Aimee Nugroho mengingatkan para orang tua, agar menjadi contoh baik bagi anak. Bapak dikurangi bermain gadget, ibu dikurangi bermain media sosial, ganti dengan waktu berkualitas buat anak.


Nah, itu dia sedikit pembahasan tentang bahaya anak tidak lepas gadget. Belajar apa bapak ibu hari ini?? Hehehe buanyak ya. Saya rasa materi ini tidak hanya untuk para orang tua saja, yang belum menikah tetap sesuai. Bisa buat bekal nanti kalau punya anak, karena merubah kebiasan tidak semudah membalikkan telapak tangan bukan?? Pokoknya, terus semangat belajar mengasuh anak ya teman-teman. Kalau Tuhan sudah beri anak,  pasti Tuhan juga yang mampukan untuk merawatnya. 


Semoga tulisan ini bermanfaat ya. Sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya!



 

Komentar